Walau Hidup Seribu Tahun PDF Print E-mail

Jam Matahari"Oprah Winprey Show selalu menampilkan public figure maupun orang biasa yang memiliki sesuatu yang istimewa. Mereka yang berkarya atau melakukan sesuatu yang unik baik untuk dirinya maupun orang lain. Konsumsi program lokal acara Kick Andy, pun tidak kalah menarik. Intinya setiap orang dapat melakukan sesuatu yang membuat dirinya istimewa."

Siang yang panas, matahari bersinar garang. Beberapa menit lagi adzan Dzuhur akan berkumandang. “Jadi, pe-er Anda hari ini adalah lakukan muhasabah, pikirkan apa amalan utama yang telah dikerjakan,” ustazah berwajah lembut itu menutup pengajian dengan suaranya yang tegas.

Agghh, amalan utama? Masih terngiang kisah seorang sahabat nabi yang tadi diilustrasikan ustazah. Kisah seseorang yang dipastikan memperoleh surga oleh Rasulullah. Bukan karena dermawan dengan kekayaannya, sebab ia seorang miskin. Bukan karena seorang ilmuwan yang menularkan ilmunya kepada orang lain, sebab ia hanya memiliki kecerdasan biasa. Bukan pula penguasa yang memimpin rakyatnya dengan adil dan menggunakan kekuasaan untuk kemaslahatan umat, sebab ia rakyat jelata. Lantas? Ia adalah seorang hamba yang senantiasa bermuhasabah setiap menjelang tidur. Memikirkan amal kebaikan yang telah ia kerjakan dan ia terima dari orang lain. Melupakan segala kesalahan dan memaafkannya.

Suatu ketika saya pernah terhenyak mendengar ucapan suami. selepas salat maghrib di mesjid, suami pulang dengan wajah sedih. “Dik, ternyata bapak A itu sudah 2 tahun ini lho puasa Daud,” ujarnya penuh cemburu. Kali lain ia pernah cerita tentang bapak Z yang tidak pernah putus jamaah subuh di mesjid kompleks kecuali sedang dinas luar kota. Atau tentang si X yang bacaan Al Qur’annya begitu fasih dan merdu kala mengimami salat, hingga jamaah hanyut dalam khusyuk bermunajat denganNya. Saya tahu, ia sangat pencemburu dengan amal kebaikan yang dilakukan orang lain. Menganggap dirinya selalu masih kurang.

Sesungguhnya apa kebaikan yang biasa dilakukan seseorang menjadi media pengingat eksistensi dirinya. Seperti kita mengingat si A, X maupun Z dengan kebiasaannya masing-masing. Demi mencari tahu apa amalan utama saya, tanpa terasa sayapun membanding-bandingkan diri dengan teman-teman. Mengingat nama mereka dan hal-hal apa yang mengingatkan saya tentang mereka. Ada Sita yang rajin puasa senin-kamis, Echa yang funky habis, hobi dandan dan belanja, Ratna yang pembersih dan ringan tangan, Adis si pendengar setia, tempat berkeluh kesah dan curhat teman-teman, atau Gea juru masak handal yang hobi eksperimen resep. Kira-kira kalau mereka mengingat saya dengan predikat apa ya?

Ternyata tidak mudah mencari tahu amalan utama apa yang telah saya kerjakan. Sebab semuanya biasa saja, seperti orang pada umumnya, tidak ada yang istimewa. Aduh betapa celakanya saya! Ibadah saya biasa saja, salat di luar yang fardhu masih sangat jarang, zakat dan sedekah hanya secukupnya saja, puasa sunnah masih berat, haji pun masih belum kesampaian.

Betapa susahnya memenuhi lisan yang sering berucap “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam.” Saat saya melakukan salat tergesa-gesa karena mengejar waktu meeting yang hampir dimulai. Atau memaksa diri mencuri waktu di tengah acara, entah seminar, fashion show ataupun konser yang sering memakan waktu lama tanpa jeda buat salat, tapi ada terselip waktu rehat bernama coffee break. Sebuah acara yang sebetulnya tidak penting-penting amat. Betapa takutnya saya mengecewakan bos hingga rela kerja lembur hingga larut malam, sementara buat tahajud saja mata terasa berat. Aduh “Gak mesti sebegitu amat kaleee!”

Saya pun jadi bertanya, masih mengingat Allah kah saat makan enak di café mahal atas nama lobby bisnis sementara di luar sana banyak pengemis, anak jalanan dan dhuafa yang kurang makan? Masih mengingat Allahkah ketika memilih baju merk butik terkenal dengan harga jutaan rupiah sementara di depan mata banyak anak-anak telanjang dan mati mengenaskan karena kemiskinan? Masih mengingat Allahkah di tengah begitu banyaknya nikmat yang telah dicecap?

Seorang sahabat pernah protes kepada Rasulullah tentang kesempatan melakukan amal kebaikan bagi mereka yang berbeda rezeki. “Orang-orang kaya pergi mendapatkan pahala. Mereka salat sebagaimana kita salat, mereka puasa sebagaimana kita puasa. Namun mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Rasulullah bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya satu tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah dan pada hubungan (dengan istri) kalian adalah sedekah.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah seseorang mendatangi istrinya karena syahwatnya akan mendapatkan pahala?”

Beliau bersabda, “Apakah menurut kalian kalau dia meletakkannya pada yang haram, bukankah baginya dosa? Demikian pula jika diletakkan pada yang halal, padanya ada pahala.” (HR. Bukhari-Muslim)

Tanpa sengaja, seakan menegaskan untuk bersegera melakukan amalan utama, saya menemukan sebuah buku cerita anak-anak islami. Salah satu kisah dari buku kumpulan 100 kisah teladan tersebut bercerita tentang tiga orang pemuda yang sedang melakukan pengembaraan. Pada suatu hari mereka berteduh di sebuah gua, tiba-tiba terjadi gempa yang hebat yang menyababkan batu-batu berhamburan dan meruntuhkan perbukitan. Akibatnya pintu masuk gua tertutup oleh sebuah batu besar yang memerangkap mereka.

Salah satu dari mereka mengusulkan untuk berdoa dan menyebutkan amal kebaikan apa saja yang telah mereka lakukan untuk mengharapkan pertolongan Tuhan. Maka mulailah pemuda pertama, ia melakukan kebaikan dengan selalu mendahulukan kedua orangtuanya dibandingkan kebutuhannya sendiri. Bahkan ia rela tidak makan demi memenuhi kebutuhan kedua orangtuanya. Begitu selesai bercerita, bergeserlah batu tersebut sedikit. Giliran pemuda kedua, ia pernah menyukai seorang gadis dan ingin melamarnya. Tetapi si gadis menolak. Pada suatu saat keluarga si gadis mengalami musibah dan ia datang meminta pertolongan padanya. Ia pun memberikan bantuan dengan ikhlas. Usai pemuda kedua bercerita, kembali batu bergeser sedikit.

Sekarang giliran pemuda ketiga untuk menyebutkan amal kebaikan yang pernah ia lakukan. Dulu ia pernah punya pegawai yang keluar sebelum gajinya dibayarkan. Uang gaji tersebut ia pakai untuk menambah modal usaha dan diputar dalam perniagaan hingga memberikan banyak keuntungan. Ketika pada suatu hari pegawai itu datang dan ingin mengambil gajinya, maka ia membayarkan gaji tersebut lengkap dengan keuntungan selama diputarkan dalam perniagaan tanpa kurang satu sen pun.

Selesai pemuda ketiga bercerita, batu pun kembali bergeser hingga memberikan cukup lebar celah untuk mereka lalui. Selamatlah ketiga pemuda tersebut oleh amal kebaikan yang pernah mereka lakukan.

Masih ingatkah Anda cerita yang pernah menjadi serial di televisi “White Snake Legend”? Legenda tentang seekor ular putih yang harus bertapa menunggu 1000 tahun untuk bisa mendapat kebaikan yaitu menjelma menjadi manusia. Sementara bagi seorang muslim tidak perlu menunggu 1000 tahun untuk mendapatkan kebaikan. Tidak perlu menunggu untuk berbuat baik, sebab usia begitu singkat. Sementara malaikat maut tidak pernah mau korupsi atau menerima suap, untuk memberikan bocoran batas waktu. Kita hanya perlu memanfaatkan sebaik-baiknya umur yang rata-rata hingga usia 60-an dengan amal kebaikan. Hingga dengan amal kebaikan tersebut mendapatkan tiket menuju surga-Nya. Tidak perlu menunggu seribu tahun, meminjam istilah gaul cape deee!•

 

Last Updated on Saturday, 21 September 2013 15:10
 

Members Login

Banner
Banner
Banner
Banner