Sepotong Coklat dan Kenangan Akan Ibu PDF Print E-mail

coklat dan kenanganCoklat selalu mengingatkanku  akan ibu. Setiap gigitan seakan  membawa ke lorong kenangan tak berujung. Coklat dan Ibu adalah sensasi kehangatan dan kasih sayang. Mungkin karena memori kanak-kanak yang begitu kuat, sehingga aku mengingatnya begitu jelas.

Seingatku ibu sangat suka coklat. Sewaktu masih kecil, kerapkali aku melihat ibu menikmati sebatang coklat dengan begitu menggugah. Ia menggigitnya dengan perlahan, sedikit demi sedikit seakan tak ingin cepat habis. Sebatang coklat tersebut tidak akan langsung dihabiskan dalam satu waktu.  Namun bertahap,  bisa bertahan hingga beberapa hari. Dipotong kecil, di telan,  kemudian sisanya dibungkus kembali lengkap dengan kertas alumuniumnya. Tidak jarang aku yang nakal suka memotong coklat tersebut diam-diam.

Kesukaan ibu akan coklat membuat kakak-kakakku yang dewasa dan sudah bekerja suka membawakan coklat bila baru terima gaji. Tentu saja  aku yang masih kecil akan ketiban rezeki. Ikut merasakan manis dan smooth-nya camilan yang terbilang mahal dan mewah tersebut.

Saat duduk dibangku SMA, aku mulai bisa membelikan ibu coklat dari  uang hadiah memenangkan lomba-lomba penulisan. Sungguh bangga bisa memberikan coklat yang harganya mahal tersebut untuk ibu dari uangku sendiri. Adalah kenangan terindah saat melihatnya menikmati potongan-potongan tersebut dengan bahagia. Entah karena si coklat yang memang delicious ataukah karena rasa haru atas prestasi anaknya.

Waktu terus melaju, meninggalkan jejak untuk dikenang. Tidak semua bisa abadi. Menginjak usia tua, ibu terdeteksi mengidap penyakit gula darah. Diabetes membuat ibu tidak lagi boleh mengkonsumsi coklat. Kamipun dilarang memberi ibu coklat. Aku pun merasa kehilangan moment menatap ibu dengan sebatang coklatnya.

Coklat tersebut memang hanyalah kendaraan waktu yang membawa kenangan akan ibu. Sosoknya yang tegar dan penuh kasih sayang selalu menjadi kenangan yang mengikuti ke manapun saya pergi. Mestinya ia bahagia, meninggalkan 9 anaknya yang telah berhasil menjadi sarjana, semua telah berumah tangga dan memberikan belasan cucu saat beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Ibu yang aku kenang, adalah wanita kuat yang selalu bangun sebelum waktu subuh. Pekerja keras untuk membantu nafkah suami yang hanya bergaji pegawai negeri. Tanpa usaha ibu, belum tentu  kami bisa hidup layak dan mendapatkan pendidikan di sekolah terbaik. Kerja keras ibulah yang membuat kami termotivasi untuk berprestasi di sekolah. Selalu menjadi juara dan mempersembahkan raport dengan nilai terbaik. Kerja keras ibu juga yang membuat kami sangat menghargai uang.

Rutinitas ibu dimulai sebelum azan subuh. Di saat orang lain masih tidur bergelung selimut hangat, ibu telah bermandi peluh di depan tungku dengan gemeretak api yang membakar kayu. Dengan sigap ia memasak aneka macam jenis kue. Beliau memang sangat ahli memasak, kue-kue tradisional  buatan ibu terkenal enak dan sering mendapat pesanan dari mana-mana. Demikian pula masakan ibu, banyak digemari. Selain menerima pesanan, ibu rutin mengisi kantin di sebuah kantor pemerintahan.

Maka hari–hari ibu adalah memasak aneka penganan kue di pagi buta. Saat matahari menyembul, ibu akan berangkat ke kantin untuk menata aneka masakan dan kue dengan dibantu seorang pegawai. Setelah jam kerja kantor berakhir, ibu akan berangkat ke pasar untuk belanja bahan-bahan keperluan esok. Menjelang ashar ibu sampai di rumah, istirahat sejenak kemudian sore kembali di sibukkan di dapur untuk persiapan bahan dan masakan esok hari. Kerja keras dan didikan ibu memberikan keahlian tersendiri pada anak-anaknya. Kakak-kakak perempuanku memiliki keahlian membuat aneka macam kue dengan resep warisan ibu. Selain ahli membuat kue, ada juga yang pintar memasak. Kakak lelaki pun rata-rata pintar memasak, mereka piawai membuat mie hingga meramu masakan. Ibu membagi tugas dengan adil. Sayangnya  karena aku waktu itu masih kecil, tugasku hanya menemani ibu berbelanja dan siap siaga bersepeda ke warung atau ke pasar bila ada bahan atau bumbu yang tiba-tiba habis. Alhasil, jadinya aku tidak mewarisi kepandaian ibu memasak dan membuat kue.

Hal lain yang kukenang dari ibu adalah kecintaannya pada pendidikan. Ia akan mengeluarkan uang dengan senang hati bila kami minta untuk biaya kursus ataupun ikut bimbingan belajar. Ia juga yang selalu mendorong untuk sekolah setinggi-tingginya. “Kalau ibu mewarisi kalian harta, tentulah sebentar saja akan habis. Tetapi kalau kalian sekolah, isi kepalamu akan terus bertahan sampai mati” ujar ibu. Demi sekolah, ia juga akan rela saat satu demi satu kami meninggalkan rumah untuk melanjutkan pendidikan di kota lain. Padahal kepergian kami akan berarti hilangnya tenaga yang akan membantu ibu mengurusi kantin dan pesanan kuenya.

Kebanggaan ibu sangat nyata bila kami sukses di sekolah. Mempersembahkan prestasi terbaik sebagai pelepas segala lelahnya. Aku masih teringat ketika pada suatu hari foto dan berita tentang keberhasilanku menjadi juara mengarang di terbitkan sebuah surat kabar nasional. Ibu tersenyum bahagia saat para karyawan yang menjadi pelanggan ibu memberi ucapan selamat. Siang itu kusaksikan mata ibu berkaca-kaca. Juga ketika kakakku berhasil lulus seleksi masuk universitas negeri ternama di pulau Jawa, ibu terlihat haru. Beberapa orangtua di departemen tersebut, anaknya juga mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Namun untuk universitas negeri di kota kami sendiripun mereka tidak lulus. Tentu saja ibu pantas berbangga ketika kakakku lulus tes masuk universitas negeri terkenal di Jawa.

Ibu juga mengajari kami untuk tidak menjadi orang dengan “gengsi” yang akan merugikan diri sendiri. Tidak larut dengan status atau jabatan mentereng. Pun tidak rendah diri dengan pekerjaan yang halal. Di kota kecil kami, bapak termasuk pejabat yang menjadi kepala kantor sebuah departemen. Namun ibu tidak pernah gengsi untuk meneruskan usahanya meski terkadang yang berbelanja adalah karyawan-karyawan bawahan bapak. Ibu tidak terlalu peduli dengan status istri bos, “Gengsi tidak bisa dimakan. Mencari uang yang halal, itu yang penting!” demikian ibu.

Pelajaran lain dari ibu adalah bagaimana menghargai uang dan bekerja untuk mendapatkan uang. Masa liburan sekolah selalu aku lewati dengan penuh semangat. Bila teman-teman yang lain sibuk dengan acara wisata ke luar kota, maka aku akan “kerja freelance” di kantin ibu. Selama liburan, setiap hari aku akan membantu melayani pembeli di kantin. Entah sebagai waitres, kasir ataupun tukang cuci piring. Bahkan kalau sedang waktu gajian aku juga menjadi debt collector alias penagih hutang dari pelanggan nakal yang suka menghindar.   Memang sistem makan di kantin tersebut memungkinkan pelanggan makan tanpa bayar, cukup dengan hanya menuliskan jumlah makanan yang dimakan hari itu. Nanti di akhir bulan akan dihitung total tagihan dan biasanya mereka akan bayar seteah menerima gaji di awal bulan. Biasanya aku akan duduk manis di depan ruang bagian keuangan, menunggu para pegawai tersebut mengambil gaji. Serunya bila ada pelanggan nakal yang suka kabur begitu terima gaji, sementara ia sudah menunggak beberapa bulan belum bayar. Ambil gajinya kucing-kucingan. Terpaksa aku harus mendatangi mereka satu demi satu ke ruangan kerja.

Sebagai karyawan freelance aku menerima gaji harian. Biasanya setelah jam kantor tutup, ibu akan menghitung uang pendapatan, setelah itu ia akan memberikan upahku. Aku dibayar harian. Kau tahu kawan betapa beruntungnya, aku bebas makan apapun yang ada dan dapat gaji pula! Biasanya memasuki masa kembali ke sekolah aku telah kaya raya untuk ukuran beberapa minggu uang saku sekolah. Itulah ibu, wanita bersahaja dengan kemauan kuat untuk mengantar anak-anaknya menjadi orang yang berguna.

Mengenang ibu, seperti senja dengan semilir angin. Ada kehangatan dan kedamaian menyatu. Seperti bait puisi yang tidak pernah selesai, terlalu panjang untuk diungkap dan terlalu indah untuk dipotong. Sepotong coklat ini pun belum juga tuntas kulumat, sebab sungguh aku rindu ibu!•••

Last Updated on Saturday, 21 September 2013 16:43