Saturday, 11 June 2011 17:30

Educare & Beauty Share di Kota Hujan

Written by  Eva Deswenti - SMC
Rate this item
(0 votes)

Talkshow PornografiSenin pagi matahari bersinar cerah di kota hujan Bogor. Satu demi satu maupun secara berkelompok, ibu-ibu cantik berbusana muslimah menaiki escalator Botani Square menuju Ballroom IPB Centre. Senyum dan sapa bertabur di antara salam dan rangkulan, sebuah silaturrahmi yang menularkan semangat persaudaraan. Tampak beberapa kru Paras dan tim Smart Mother Community sibuk melayani registrasi peserta, membagikan goodie bag dan tanda peserta.


Sementara itu beberapa meja tertata cantik dengan display produk kecantikan, peralatan rumah tangga, buku, kerudung dan busana. Sebuah tanya terbersit, gerangan hajatan apakah yang sedang digelar? Pantas saja ibu-ibu berkumpul,  ternyata ada acara bertajuk Educare & Beauty Share dengan serangkaian kegiatan berupa talk show menampilkan nara sumber psikolog Elly Risman, demo make up oleh Wardah Kosmetik, demo kerudung dari Permata/Zenitha dan fashion show busana muslim koleksi MyRin.Deretan meja dan kursi yang sudah dilengkapi notes dan ballpoint cantik berikut permen dan air mineral itu mulai dipenuhi peserta.

 

“Awali hari dengan semangat tampil cantik” demikian kira-kira yang ingin disampaikan tim kosmetika Wardah saat mengisi sesi pertama dengan demo dan tips-tips cantiknya. Salah seorang peserta di daulat untuk menjadi model dadakan. Dengan piawai Dini dan Evi dari Wardah kosmetik menyapukan make-up untuk penampilan sehari-hari agar selalu tampil segar dan percaya diri.
Tidak butuh waktu yang lama, make-up pun selesai. Peserta juga tampak sudah mulai siap untuk menerima materi yang lebih berat. Materi yang akan menyentakkan kesadaran tentang konsep parenting menghadapi era digital.

Pornografi Lebih Berbahaya dari Narkoba!
“Hm…anakku suka baca, koleksi komiknya banyak,” ujar seorang ibu dengan nada bangga. “Anak saya lebih suka main game daripada pecicilan di luar rumah,” sahut ibu lain dengan ringannya. Percakapan itu sering di dengar saat berkumpul dengan ibu-ibu ketika menunggu anak sekolah, arisan atau percakapan jeda makan siang di tempat kerja. Tidak sedikit orang tua lebih merasa aman dan lega bila melihat anaknya duduk tenang di depan TV atau komputer. Tanpa menyortir tayangan atau situs apa yang layak dilihat. Demikian pula dengan bacaan, menganggap aktivitas baca sudah cukup bagus tanpa ada pengawasan bacaan apa yang layak di baca anak. Asal itu komik, sudah dianggap aman! Asal itu ke warnet atau duduk manis di depan komputer sudah dianggap belajar, melek teknologi!

Kehadiran Elly Risman (psikolog)dan Indriyani Permatasari (pemimpin redaksi majalah Paras) yang memandu talk show membuka mata dan kesadaran para ibu akan bahaya dan ancaman adiksi pornografi yang mengepung anak-anak.Ternyata dampak psikologis pornografi berpengaruh pada kerusakan otak. Bahkan lebih berbahaya dari narkoba! Bila narkoba merusak tiga bagian otak, pornografi bisa merusak 5 bagian otak. Gangguan otak itu antara lain adalah di bagian ubun-ubun (preprontal cortex) sebuah bagian di otak yang berfungsi dalam mengambil keputusan, membuat perencanaan, tempat dibuatnya nilai-nilai, moral dan lain sebagainya. Otak anak yang terpapar pornografi akan mengalami penciutan akibat perubahan beberapa hormon.
Tampak wajah kaget dan pucat ibu-ibu ketika disadarkan kenyataan bahwa anak-anak yang terpapar pornografi bukan lagi remaja usia SMP atau SMA tetapi sudah lebih luas dan memprihatinkan, yaitu bocah-bocah usia SD. Mereka mengenal pornografi melalui media internet, ponsel, film/sinetron, game,  komik dan media cetak.

Dengan gayanya yang lugas, Elly Risman berhasil menyentak kesadaran peserta akan beberapa kelalaian yang tidak mereka sadari selama ini. Seperti permainan game tertentu yang beredar luas dan akrab di telinga karena sering di mainkan anak-anak ternyata pada level tertentu justru menyajikan gambar-gambar wanita telanjang, komik-komik yang juga sudah akrab ditelinga, seperti komik Naruto yang juga menyusupkan gambar-gambar porno.
Setelah tegang dengan kenyataan bahaya yang mengancam anak-anak kita dalam serbuan teknologi, peserta di ajak melemaskan syaraf dengan sesi Fashion Show yang ditampilkan butik MyRin. Gamis-gamis cantik berbahan kaos untuk aktivitas sehari-hari maupun bahan katun terlihat anggun. Perlahan senyum kembali tersungging manakala melihat keanggunan busana yang ditampilkan.

Setelah jeda shalat dan makan siang, di selingi dengan game dan doorprize, kembali peserta mendapatkan ilmu untuk kreasi kerudung. Tim Permata, produsen kerudung langsung dipandu oleh Rike sang owner. Serunya lagi, para model dadakan diperbolehkan membawa pulang kerudung yang dikreasikan.

Berturut-turut kemudian puluhan hadiah dan souvenir dari MyRin, Qirani, Permata, Zenita, Vicenza, Wardah, Hanamasa, KFC, Maika, Pocari Sweat, House of Tania dari Mumtaaz dan Sygma  berpindah ke peserta yang beruntung. Sementara itu di dalam goodie bag peserta minuman Lasegar, camilan Soyjoy, bingkisan wardah kosmetik dan tentu saja majalah Paras menjadi oleh-oleh untuk di bawa pulang.•

 

Read 14604 times Last modified on Sunday, 19 June 2011 00:56