Friday, 17 June 2011 06:32

Tempat Wisata di Saudi Arabia

Written by 
Rate this item
(0 votes)

Majid NabawiSaudi Arabia, tidak hanya merupakan tujuan ibadah haji semata. Saujana yang dikaruniakan Allah sangat lengkap. Di kota suci Mekkah, selain Mesjidil Haram, bayak tempat bisa dikunjungi sebagai wisata sejarah, seperti rumah kelahiran Rasululullah, makam ibunda khadijah, jabbal Tsur, jabal Rahmah, mesjid Qiblatain, dan sebagainya.
Sementara di Madinah dengan kekayaan alamnya lebih banyak tempat bisa dikunjungi. Seperti laut merah, peternakan unta, kebun kurma, medan magnet, Museum dan percetakan Alquran, atau tempat pengolahan kurma. Belum lagi tempat-tempat bersejarah yang berada di sekitar mesjid Nabawi, yang umumnya di tandai dengan berdirinya mesjid. Berbeda dengan bangsa kita yang menandai suatu tempat bersejarah dengan membangun monument.

Berikut adalah sedikit tempat yang dapat di kunjungi di sela-sela umrah ataupun melaksanakan haji. Jamaah Indonesia selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat-tempat ini.

Peternakan Unta

Binatang khas padang pasir yang menggoda adalah Onta. Peternakan Onta juga menjadi daya tarik untuk dikunjungi. Peternakan umumnya berada di tempat terbuka. Tidak        ada bangunan beratap pada lingkungan di sekitarnya. Sejauh mata memandang hanya hamparan padang pasir berlatar belakang pebukitan batu. Udara yang panas,  jalan yang lurus dengan kiri kanan hamparan pasir dan perbukitan tandus adalah pemandangan di tempat peternakan ini.
Onta dipelihara secara kelompok, terdiri atas unta dewasa dan anak-anaknya. Sebuah belanga besar wadah air di siapkan di tengah-tengah mereka. Beberapa tumpukan rumput kering juga tampak di salah satu sudut. Rumput tersebut adalah makanan sang Onta.  Karena hampir-hampir tak ada tanaman di padang pasir yang dapat dikonsumsi Onta, maka rumput kering diimpor dari negara tetangga. Adapun minumannya didatangkan dengan menggunakan mobil tangki dari hasil penyulingan air laut.
Umumnya pengunjung memanfaatkan kelompok Onta sebagai latar belakang saat berpose di depan kamera. Setelah puas mengabadikan moment tersebut, mereka bisa mencoba susu Onta yang segar karena diperah langsung dari ternak tersebut. Satu botol kecil susu yang dikemas dalam botol air mineral itu dihargai lima real. Tetapi di peternakan lain, ada juga  yang  menawarkan,dua botol seharga  lima real. Susu Onta ini menggoda pengunjung untuk mencoba, menghilangkan rasa penasaran dengan susu sapi atau kambing yang biasa di konsumsi. Susu Onta  mengandung banyak gizi, namun bagi mereka yang memiliki sistem pencernaan agak bermasalah, sebaiknya berhati hati mengonsumsi susu itu.

Pengolahan Kurma
Tempat menarik lainnya untuk di datangi adalah kebun dan pengolahan kurma. Selain menambah wawasan, kunjungan ke pusat industri kurma tentu merupakan kesempatan baik untuk membeli oleh-oleh. Di tempat ini selain bisa mencicipi buah kurma yang manis, kita juga bisa mengetahui bagaimana proses pengolahannya.  Kurma selain dikeringkan, juga diolah dengan campuran cokelat, madu, buah almond, kenari  dan sebagainya. Walhasil, produknya jadi memiliki komposisi dan cita rasa yang beragam.
Banyaknya pilihan jenis kurma dan bebasnya calon pembeli untuk mencicip menjadi daya tarik sendiri. Bayangkan kalau ada yang iseng hanya mau mencicipi saja,  ia dapat berkeliling dari satu meja ke meja lainnya, dan mencicipi hingga puluhan macam produk korma.  Kebebasan untuk mencicipi secara gratis berlaku pula di toko-toko atau di supermarket swalayan modern Bin Dawood yang terletak persis di samping Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.
Kurma yang paling diminati jemaah haji Indonesia biasanya jenis kurma Ajwa atau yang disebut juga Kurma Nabi. Menurut riwayat kurma ini merupakan kesukaan Rasulullah saw. Banyak yang percaya kurma jenis itu mengandung berbagai khasiat. Karena istimewanya kurma ini maka  harganya lebih mahal ketimbang jenis-jenis lain.

Pesona Laut Merah & Medan Magnet
Medan magnet  adalah salah satu tempat  yang banyak dikunjungi oleh jamaah haji dan umrah dari bebagai Negara. Selain karena  rasa penasaran akan ceritanya, kawasan ini juga memiliki keindahan panorama alamnya.  Langit tampak biru, indah dan jernih karena hampir-hampir tanpa awan. Warna biru langit itu terlihat kontras dengan warna cokelat kemerah-merahan padang pasir dan bukit batu. Pada beberapa tempat terdapat tanaman khas padang pasir yang penuh dengan duri tajam.
Di tempat tertentu di sekitar pusat magnet itu, biasanya para sopir pengantar jemaah akan memeragakan efek medan magnet. Mereka akan mematikan mesin mobil, meski jalan menanjak naik,  mobil seperti di tarik sehingga tetap jalan.
Tempat lain yang juga tidak pernah dilewati untuk dikunjungi adalah Laut yang kaya akan cerita saat namanya terucap, yaitu Laut Merah. Di sini terdapat sebuah mesjid yang di kalangan umat Islam Indonesia yang telah menunaikan ibadah haji atau umrah, nama mesjid ini tidaklah asing. Ada yang menyebutnya mesjid Siti Rahmah, namun ia lebih popular dengan nama mesjid Terapung, karena letaknya yang berada di tepi pantai Laut Merah.
Pondasi mesjid ini berada di dalam air berupa tiang-tiang pancang, seperti rumah panggung. Konon, saat pasang maka air laut akan memenuhi hingga halaman mesjid sehingga memberikan kesan bagunan tersebut terapung di atas air.

Dari Museum Hingga  Percetakan Al Qur’an
Di Makkah, ada sebuah bangunan megah dengan arsitektur khas Timur Tengah. Namanya Museum of the Two Holly Mosques Architectures. Ini merupakan museum 2 mesjid suci, yaitu  Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Lingkungan di sekitar museum adalah padang pasir berbukit batu sebagaimana umumnya lansekap di Arab Saudi. Meski begitu, halaman di sekitar museum sangat hijau. Sebab, selain deretan pohon kurma, ada banyak tanaman dari daerah tropis lainnya.
Kita dapat mengamati perkembangan kedua mesjid tersebut dari foto-foto, maket atau miniature mesjid. Di dalam museum terpajang foto-foto perkembangan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi secara lengkap dari masa ke masa. Selain itu juga terdapat  benda-benda yang pernah digunakan sebagai perlengkapan kedua masjid suci tersebut yang sudah tidak terpakai karena sudah diganti dengan yang baru. Misal¬nya, bingkai Hajar Aswad, kunci, pintu, dan kain penutup Kabah, mimbar tempat khotbah, penutup Makam Ibrahim, perlengkapan sumur Zam Zam, dan sebagainya.
Butuh waktu cukup lama untuk mengamati dan mempelajari dengan saksama semua materi yang dipamerkan. Tentunya dengan mengunjungi museum tersebut, kita akan dapat lebih memahami sejarah dan informasi penting kedua bangunan suci itu.
Sementara di Madinah, rasanya rugi  kalau kita tidak mengunjungi tempat percetakan dan penjualan Alquran. Di sana, kita dapat menyaksikan proses pencetakan kitab suci itu dalam berbagai ukuran yang dilengkapi terjemahan hampir dalam semua bahasa di seluruh dunia. Sebut misalnya bahasa Rusia, China, Korea, Jepang, Spanyol, dan tentu saja dalam bahasa Indonesia. Bahkan ada Al Quran dengan bahasa Mandar (Sulawesi).
Di tempat percetakan itu, pengunjung selain dapat melihat-lihat juga disediakan Al-Quran untuk di beli. Mulai dari Al Quran ukuran besar, kaset murottal hingga ukuran saku dalam bentuk juz perjuz. Harganya relative lebih murah disbanding harga toko. Hanya saja pada saat musim haji, kita harus ekstra sabar kalau ingin membeli. Pelayan yang sedikit dan peminat yang banyak membuat suasana kurang nyaman. Apalagi tanpa system antri, wah harus benar-benar sabar.•

 

Read 319027 times Last modified on Saturday, 18 June 2011 13:40