Friday, 17 June 2011 06:52

Karir Ibu Rumah Tangga

Written by 
Rate this item
(0 votes)

handsDi balik kesuksesan seorang suami, ada istri yang paripurna mendampingi. Di balik keberhasilan seorang anak, ada seorang ibu yang patut dikagumi. Di balik kebahagiaan rumah tangga ada istri dan ibu yang ikhlas dan  penuh cinta kasih. Apakah realita, seindah  kalimat tersebut? Seberapa jauh profesi ibu rumah tangga dihargai masyarakat?

Suatu hari dipuncak kelelahan mengurus rumah tangga, seorang ibu muda mengeluhkan ketidakpuasannya. Betapa tidak, masih terbayang di depan matanya ketika kemarin sore menghadiri arisan keluarga. Si ibu mertua memuji setinggi langit  salah seorang menantu perempuannya yang kerja di bank swasta. Di mata si ibu dan saudara yang lain, iparnya tersebut adalah wanita yang hebat! Karirnya bagus, mandiri dan punya penghasilan. Tidak peduli betapa kurang ajar dan bandelnya anak si ipar.

“Tidak percuma sekolah tinggi sampai universitas!” demikian komentar mereka. Tentu saja si ibu muda ini merasa tersindir. Ia yang bergelar insinyur, alumni univeritas ternama, kok hanya menthok di DPR (baca: DaPuR)? Dan pertanyaan tersebut kerap kali dilontarkan oleh orang-orang di sekelilingnya. Adalah aneh bagi mereka, seorang sarjana hanya berkutat di rumah, mengurus anak-anak.

“Apakah menjadi ibu rumah tangga bukan profesi?”, keluhnya. Kenapa ada istilah wanita karir dan tidak diikuti bapak karir? Apa maksud wanita berprofesi ganda untuk mereka yang menikah sekaligus bekerja di luar rumah? Mengapa peran ibu rumah tangga dianggap remeh sementara peran wanita karir bertabur pujian dan penghormatan?

Di ujung sesalnya si ibu muda membeberkan “job description” ibu rumah tangga! Bangun paling pagi, untuk mempersiapkan sarapan suami dan anak-anak, membantu persiapan suami berangkat kerja, memandikan dan memilihkan pakaian si kecil yang akan berangkat sekolah. Memeriksa peralatan sekolah anak sulung dan segala kehebohan menjelang keberangkatan suami dan anak ke sekolah.

Setelah pasukan heboh tersebut berangkat, ia harus berbenah membersihkan rumah, mencuci, merencanakan menu masakan hari ini dan apa yang akan dibeli ketika berbelanja nanti. Ritual selanjutnya memasak aneka masakan kesukaan keluarga, diselingi menjemput si kecil dari Taman Bermain.

Tengah hari, selesai masak ia harus menemani makan anak-anak yang sudah pulang sekolah, sembari menyuapi si kecil. Rumah yang rapi akan kembali berantakan oleh mainan dan riuh rendah suara anak. Si ibu harus mengawasi sambil mengerjakan pekerjaan ringan lainnya. Hingga tiba waktu tidur siang anak, ia akan membuat kue untuk cemilan sore, menyetrika pakaian dan memandikan anak-anak yang seiring selesainya kerja tersebut telah bangun.

Menjelang sore hingga malam, kesibukan akan bertambah dengan mengurusi suami yang kecapaian pulang kerja. Membuat minum, mempersiapkan makan dan lain sebagainya. Masih ada pe-er sekolah si sulung yang harus diawasi belajarnya. Masih ada jahitan kancing yang terlepas milik si kecil. Masih ada piring sisa makan yang harus di cuci. Masih ada…hingga kantuk tidak dapat ditahan. Besok ritual yang sama akan terulang kembali.

Berapa jam dalam sehari waktu kerja seorang ibu rumah tangga? Nyaris 24 jam! Berapa UMR (Upah Minimum Regional) yang biasa dibayarkan untuk seorang pekerja?  Siapa yang sanggup membayar kerja full day tersebut? Apalagi dengan background pendidikan tinggi, idealnya standar gaji berelasi linear pula.

Apakah kegelisahan Fatima Mernissi akan menjadi virus yang menjangkiti si ibu muda? Bila Fatima kemudian melarikan kegelisahannya dengan mendalami hadits-hadist misogini yaitu  hadist yang mendiskritkan wanita, bagaimana dengan si ibu muda? Akankah ia disibukkan dengan sebuah kalkulator untuk senantiasa mengkalkulasi setiap kerja keibuannya dalam rumah tangga?

Ketika mencoba untuk berempati terhadap ketidak puasan ibu muda tersebut, saya dapati suatu kenyataan yang samar. Bahwa, perempuan yang berkarir di wilayah domestik belum mendapat penghargaan selayaknya. Stereotif masyarakat telah bergeser dari nilai-nilai tradisional peran wanita bergerak ke arah dataran modern. Sayangnya, penafsiran modern tersebut telah menggiring wanita untuk berlomba-lomba keluar dari rumah. Meninggalkan karir ibu rumah tangga yang tidak bergaji berupa materi dan terkadang minus ucapan terima kasih, bahkan dianggap rendah karena tidak perlu pendidikan dan keahlian.

Saya ingat, dulu ketika masih di bangku sekolah dasar dan menengah. Beberapa orang kawan yang saya kenal dengan baik keluarganya merasa minder ketika ditanya pekerjaan Ayah dan Ibu. Apa pasal? Beberapa teman yang lain begitu bangga menyebutkan pekerjaan ibunda mereka, “Ibuku….” guru, polwan, jaksa, pengacara,  insinyur, arsitek, dokter dan aneka jenis pekerjaan lain.

“Ibu saya hanyalah seorang ibu rumah tangga saja” jawab mereka dengan malu. Kini saya rasakan  betapa begitu miris kata “hanyalah” tersebut. Seakan sebuah keterpaksaan, keterbatasan dan rendah nilai. Justru di tangan seorang wanita yang menganggap anak dan keluarga sebagai proyek penelitian berkesinambungan, sehingga ia curahkan waktu dan tenaganya untuk mereka itulah, akan terbentuk  anak-anak yang sholeh dan cerdas, serta seorang suami yang sukses sebagai pemimpin dan pencari nafkah.

Andaikan, ibu rumah tangga ditasbihkan sebagai karir. Diberi reward berupa gaji dengan standar UMR, masihkah ia menjadi lapis kedua pilihan kerja kaum wanita? Akankah menaikkan pandangan masyarakat hedonis ini terhadap ibu rumah tangga?

Sebuah tanya kemudian menggelitik, “Mampukah para suami menggaji istri?” yang jam kerjanya melampaui masa kerja mereka? Dengan beban yang kurang lebih sama? Berapa gaji yang pantas untuk karir ini, terlepas dari doktrin keagamaan?

Tiba-tiba saya rindu ibunda, yang keikhlasannya untuk menjadi “hanya” terpancar dari kasih sayang yang begitu besar kepada suami dan anak-anak. Saya rindu sosok yang selalu merentangkan tangan untuk merengkuh kepulangan anak-anaknya dari sekolah, mendengarkan dengan tekun cerita mereka tentang sekolah, teman-teman dan keajaiban hidup dalam kacamata seorang bocah. Saya rindu suara ibunda yang lembut dalam mengajar, membimbing doa dan membacakan dongeng menjelang tidur. Saya rindu ibunda yang menjadi aurora di seluruh rumah, tempat tinggal keluarganya. Di mana cahayanya memancar dari balik jendela, sehingga mampu menarik hati untuk bersegera pulang.

Maka terlalu absurd definisi karir ibu rumah tangga, terlalu agung untuk disejajarkan dengan materi (gaji) dan terlalu naïf bila ada wanita yang meninggalkannya.•

 

Read 2863 times Last modified on Sunday, 19 June 2011 01:30