Sunday, 19 June 2011 02:22

Taraweh Anak-anak di Masjid

Written by  eva deswenti, pernah dimuat di situs moslemWorld.co.id dan Majalah Paras
Rate this item
(0 votes)

TarawehAdzan shalat isya baru saja berakhir, jamaah pun bersiap-siap untuk shalat. Suasana masjid padat oleh jamaah taraweh hingga membludak ke teras masjid, maklum karena baru minggu pertama bulan Ramadhan. Suara anak-anak terdengar riuh rendah, meski tempatnya berada pada barisan paling belakang dari orang-orang dewasa.


Ketika imam mulai takbir dan membaca Al-fatihah, suara riuh rendah belum juga reda. Entah  apa yang mereka lakukan, mungkin mengganggu temannya yang shalat hingga ia batal dan terpaksa mengulang atau bolak-balik mengambil wudhu untuk sekedar bermain air.

Begitu shalat selesai,  seorang jamaah ibu-ibu mendekati rombongan bocah yang duduk di barisan belakang. Sembari melotot ia menegur anak-anak yang membuat ribut, menyuruh mereka diam dengan membentak. " Hei...bisa diam tidak? Kalau mau main, sana keluar masjid!" nada tinggi keluar dari mulutnya. "Jadi hilang konsentrasi shalat " gerutunya.

Setelah sahalat Isya' usai, tiba saatnya ceramah taraweh. Ajaib, jamaah dewasa yang tadinya sunyi kala shalat terdengar sedikit ramai. Suasana masjid tidak lagi tenang, di antara suara anak-anak terselip gumaman atau suara pelan kaum ibu. Ah, ternyata ada juga kaum ibu yang lagi mengobrol sembari bersender pada dinding masjid.

Itulah gambaran umum masjid di sekitar kita. Meriah di saat Ramadhan, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Maka gambaran suasana tersebut tidaklah asing bagi kita. Namun bila ditelaah, episode di atas di mana pola hubungan orang dewasa dan anak-anak dijadikan sebagai sebuah bentuk komunikasi pengajaran, maka sangatlah bertolak belakang dengan  tulisan pakar psikologi, Richard Carlson. Menurutnya  sebuah pengajaran akan berlangsung efektif bila disertai dengan komunikasi yang benar. Bagaimana mungkin Anda mengajarkan anak untuk tidak bohong sementara Anda sendiri pernah menyuruhnya mengatakan "Bapak/Ibu tidak ada di rumah" ketika ada orang minta sumbangan? Bagaimana mungkin meminta anak untuk tenang dan tidak berteriak-teriak sementara Anda mengucapkannya dengan mata melotot dan suara keras menggelegar?

Pesan apa yang sebetulnya ingin disampaikan? Jangan sampai bahasa tubuh (body language) bertolak belakang dengan pesan yang ingin disampaikan. Bila demikian maka berkali-kali pun pesan tersebut disampaikan tidak akan efektif bagi anak. Pun ketika meminta anak untuk tertib di masjid, mestinya orang tua memberikan contoh dengan tingkah laku kepada anak-anaknya. Tidak perlu melotot, marah apalagi ikut berteriak.

Menyaksikan kegembiraan anak-anak menyambut Ramadhan, semangat mereka meramaikan masjid, ada getaran khusus. Terlepas dari keluguan mereka, mencari kesibukan  kala merasa bosan dengan bacaan imam yang panjang atau jumlah rakaat shalat yang banyak. Apakah mereka mengganggu kekhusyukan shalat? Bila ada yang merasa tidak khusyuk, apakah benar karena mereka?

Kekhusyukan bermunajad kepada Allah yang terefleksi dari shalat, adalah sesuatu yang bersifat personal. Perasaan khusyuk itu belum tentu diraih meski bersunyi seorang diri dalam sebuah  mushala jauh  di atas bukit. Tidak mustahil seseorang merasa khusyuk dengan Allah ketika melaksanakan shalat  di tengah keramaian pasar.

Kembali ke anak-anak, mereka yang penuh ceria menyambut ramadhan. Dengan kerudung, mukena, sarung dan peci yang kebesaran, bagaikan kuncup bunga yang menyegarkan. Kehadiran mereka bersama orang tua di dalam masjid adalah rangkaian proses belajar keberagamaan mereka. Maka kelembutan bimbingan haruslah diutamakan daripada teguran atau memarahi.

Menarik menyimak sebuah tulisan yang menyitir sastrawan Eropah Timur. Bagaimana mungkin, tulisnya, mengajarkan  keindahan sekuntum mawar dengan sebuah pedang? Bagaimana mungkin mengajarkan kebaikan dengan jiwa yang penuh amarah?

Read 1028 times